“Suara dari Hati”
Namanya Farhan.
Sejak kecil, Farhan sudah akrab dengan suara lantunan ayat suci. Setiap sore, ketika anak-anak lain bermain layangan di lapangan, Farhan duduk bersila di musholla kecil di ujung kampung, belajar mengaji bersama ustadz Rahman.
Suara Farhan lembut dan merdu. Setiap kali ia membaca Al-Qur’an, suasana musholla terasa tenang. Ustadz Rahman sering menepuk bahunya sambil berkata,
“Teruslah membaca dengan hati, Nak. Suatu hari, suaramu akan menuntun banyak orang.”
Farhan tumbuh menjadi remaja yang sederhana. Ia tidak hanya membaca, tapi juga berusaha mengamalkan isi Al-Qur’an dalam hidupnya — menolong orang tua, menghormati sesama, dan menjaga tutur kata.
Ketika teman-temannya mulai sibuk dengan dunia masing-masing, Farhan tetap istiqamah. Ia mengikuti lomba tilawah, menjadi muadzin di masjid, bahkan membantu mengajar anak-anak kecil mengaji di kampungnya.
Waktu berlalu. Farhan kini dewasa. Suatu hari, imam masjid di kampungnya jatuh sakit dan tidak bisa memimpin shalat Jumat. Warga pun menunjuk Farhan untuk menggantikan. Ia sempat gemetar — tapi ketika berdiri di depan jamaah, suaranya mengalun tenang. Bacaan Al-Fatihah-nya membuat semua hati tersentuh.
Setelah shalat selesai, banyak orang datang menyalaminya.
“Masya Allah, bacaanmu indah sekali, Farhan. Semoga kamu terus menjadi imam yang menuntun kami,” kata seorang jamaah tua dengan mata berkaca-kaca.
Sejak hari itu, Farhan resmi menjadi imam tetap di masjid besar kampungnya.
Setiap malam, ia masih membuka mushaf Al-Qur’an yang dulu ia pakai waktu kecil — mushaf yang kini mulai menguning, tapi tetap menjadi saksi perjalanan seorang anak yang tumbuh bersama cahaya kalam Allah.
Dan setiap kali adzan berkumandang, ia tersenyum dan berkata dalam hati:
“Dari suara kecil di musholla, kini aku memimpin suara hati banyak orang. Semua karena rahmat-Nya.”
Comments
Post a Comment