“Huruf dari Hati”

Namanya Dimas — seorang pemuda yang suka menulis diam-diam di malam hari. Saat teman-temannya sibuk bermain gim atau jalan-jalan, Dimas justru duduk di depan meja kecil dengan laptop tua dan secangkir teh hangat.

Ia menulis cerita tentang kehidupan, tentang orang-orang yang berjuang, tentang cinta yang sederhana. Awalnya, ia menulis hanya untuk dirinya sendiri — untuk menenangkan pikiran dan menumpahkan perasaan. Tapi semakin banyak ia menulis, semakin besar pula keinginannya agar ceritanya dibaca orang lain.

“Bagaimana kalau ada seseorang di luar sana yang sedang sedih, lalu menemukan harapan lewat tulisanku?” pikirnya.

Setiap malam, huruf demi huruf ia susun seperti menyusun potongan mimpi. Kadang ia ragu, merasa tulisannya tidak cukup bagus. Namun setiap kali hampir menyerah, ia teringat pesan ayahnya:

“Tulisan yang datang dari hati akan selalu menemukan pembacanya.”

Akhirnya, setelah berbulan-bulan menulis, Dimas memberanikan diri menerbitkan bukunya secara sederhana. Buku itu berjudul Langkah yang Tak Pernah Hilang.

Ia tak menyangka, buku kecil itu dibaca banyak orang. Ada yang mengirim pesan padanya, berkata bahwa mereka merasa lebih kuat setelah membaca tulisannya. Ada pula yang menangis karena merasa kisahnya serupa dengan cerita dalam buku itu.

Dimas tersenyum. Ia sadar, yang ia buat bukan sekadar buku — tapi jembatan antara hati dan hati.

Dan di halaman terakhir bukunya, ia menulis satu kalimat:

“Aku menulis agar kau tahu — kau tidak sendirian.”

Comments

Popular posts from this blog