Lelaki dan Pensilnya”
Namanya Arka. Anak laki-laki berusia enam belas tahun yang selalu membawa pensil di saku kemejanya. Ia bukan murid paling pandai di sekolah, tapi setiap kali guru menerangkan pelajaran, tangannya tak pernah diam—selalu menggambar di pinggir buku tulisnya.
Gambarnya sederhana: gunung, rumah, langit, dan kadang wajah orang-orang yang ia temui di jalan. Namun di balik setiap goresan, ada rasa ingin tahu yang besar tentang dunia.
Suatu sore, Arka duduk di taman kota. Ia menggambar seorang kakek yang sedang memberi makan burung. Ketika kakek itu menghampirinya, Arka sempat gugup. Tapi si kakek justru tersenyum sambil melihat hasil gambar itu.
“Kau tahu?” kata si kakek, “gambar ini bukan hanya tentang aku dan burung-burung itu. Ini tentang cara matamu melihat dunia.”
Sejak hari itu, Arka mulai percaya bahwa menggambar bukan cuma tentang bentuk, tapi tentang makna di baliknya. Ia mulai membawa buku sketsa ke mana pun ia pergi—ke sekolah, ke pasar, bahkan ke atap rumah ketika senja tiba.
Suatu malam, ia menggambar bintang dengan pensil tumpul. Ia tahu garisnya tak sempurna, tapi ia juga tahu—setiap goresan kecil adalah langkah menuju mimpinya menjadi pelukis besar.
Dan di antara lembar-lembar kertas itu, Arka menulis sebuah kalimat kecil:
“Selama masih ada pensil di tanganku, aku tidak akan berhenti bermimpi
Comments
Post a Comment