Penanam Harapan”
Namanya Pak Hasan.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul sempurna, ia sudah berjalan membawa cangkul, ember kecil, dan beberapa bibit pohon di tangannya. Di desa tempatnya tinggal, orang-orang sudah terbiasa melihat sosok tua itu berjalan pelan menuju ladang.
“Pak Hasan itu aneh,” kata sebagian orang.
“Menanam pohon terus, padahal usianya sudah tua. Buat apa?”
Tapi Pak Hasan hanya tersenyum setiap kali mendengar itu.
“Aku menanam bukan untuk diriku,” katanya lembut, “tapi untuk mereka yang akan datang setelahku.”
Setiap hari, ia menanam satu pohon. Kadang pohon mangga, kadang jati, kadang hanya pohon kecil yang ia temukan di pinggir jalan. Ia tidak peduli panas atau hujan, tangannya selalu kotor oleh tanah, tapi hatinya selalu tenang.
Tahun demi tahun berlalu. Pak Hasan semakin tua, rambutnya memutih, langkahnya makin pelan. Namun ia tidak pernah berhenti menanam.
Suatu hari, anak-anak desa yang dulu sering menertawakannya bermain di bawah pohon rindang yang ditanamnya bertahun-tahun lalu. Burung-burung bersarang di dahan, udara menjadi sejuk, dan sumber air mulai jernih kembali.
Orang-orang baru sadar, pohon-pohon itu bukan hanya tumbuh di tanah — tapi juga di hati mereka.
Ketika Pak Hasan wafat, seluruh desa berkumpul di makamnya. Di sana, di atas pusaranya, tumbuh satu pohon kecil yang tumbuh dari biji yang tertiup angin. Seolah alam pun tahu, perjuangan Pak Hasan belum benar-benar berakhir.
Dan setiap kali orang lewat di jalan desa yang teduh, mereka selalu berkata pelan,
“Inilah hasil dari tangan seorang yang menanam harapan setiap hari.”
Comments
Post a Comment