Penjual Burung di Pasar Tua

Setiap pagi, di ujung pasar tua yang ramai, ada seorang lelaki tua bernama Pak Samin. Rambutnya memutih, bajunya lusuh, tapi matanya selalu berbinar. Ia dikenal sebagai penjual burung paling jujur di seluruh desa.

Burung-burung jualannya bukan sembarangan — ada kutilang, perkutut, murai, dan kenari. Tapi yang paling menarik bukan burung-burungnya, melainkan cara Pak Samin memperlakukan mereka. Ia selalu berbicara lembut, memberi makan dengan tangan sendiri, dan setiap pagi membuka sangkar agar burung-burung itu bisa menghirup udara segar sebelum kembali dijual.

Suatu hari, seorang anak kecil datang ke lapaknya. Ia menatap seekor burung kenari kuning yang cantik, tapi wajahnya tampak sedih.

“Pak, burung ini pasti ingin bebas, ya?” tanya anak itu.

Pak Samin tersenyum.

“Mungkin benar. Tapi terkadang, orang membeli burung bukan untuk memenjarakan, melainkan untuk mendengarkan suaranya — agar rumah terasa hidup.”

Anak itu terdiam, lalu membuka celengan kecil di tangannya. “Kalau begitu, saya ingin membelinya… untuk dilepaskan.”

Pak Samin tersentak. Ia menatap anak itu lama, lalu tersenyum lebar. Ia menolak uangnya dan berkata,

“Nak, biarlah hari ini burung ini bebas atas nama kebaikan hatimu.”

Ia membuka sangkar, dan burung kenari itu terbang tinggi, bernyanyi di atas langit pasar. Orang-orang yang melihat ikut tersenyum — seolah sedikit keindahan kembali ke dunia yang sibuk itu.

Sejak hari itu, lapak Pak Samin bukan hanya tempat jual beli, tapi juga tempat belajar arti kebebasan dan kasih sayang.

Comments

Popular posts from this blog